Januari 31, 2011

Perkembangan Kognitif dan Linguistik

A.    Pengertian Perkembangan Kognitif dan Linguistik
1.      Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan berpikir dan penalaran yang semakin canggih seiring bertambahnya usia.
2.      Perkembangan linguistik
Perkembangan linguistik adalah perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa yang semakin canggih seiring bertambahnya usia.


B.     Prinsip-prinsip Dasar Perkembangan Manusia
Saat kita mempelajari berbagai teori perkembangan kognitif dan linguistik terdapat sejumlah prinsip umum yang tampaknya berlaku untuk setiap ranah perkembangan:
1.      Urutan perkembangan sedikit banyak dapat diramalkan.
Perkembangan manusia seringkali dicirikan oleh tonggak perkembangan (developmental milestones) perilaku-perilaku baru yang semakin kompleks seiring meningkatnya tahap perkembangan yang muncul dalam urutan yang dapat diramalkan. Dalam batas-batas tertentu, kita melihat keseragaman (univesals) dalam tahap-tahap perkembangan pola-pola yang serupa daslam hal bagaimana anak berubah seiring waktu, terlepas dari perbedaan lingkungan tempat anak-anak tersebut tumbuh dan berkembang.
2.      Anak-anak berkembang dalam kecepatan yang berbeda.
Tidak semua anak mencapai tonggak perkembangan pada usia yang sama. Beberapa anak mencapainya lebih dini, beberapa anak yang lain mencapainya lebih lambat. Penentuan perkiraan usia saat anak mampu melakukan perilaku tertentu atau berpikir dengan cara tertentu memungkinkan kita membuat ramalan umum mengenai kemampuan-kemampuan anak pada tingkat usia tertentu.
3.      Perkembangan terkadang terjadi dengan cepat, terkadang juga lambat.
Perkembangan tidak terjadi dalam kecepatan yang konstan. Suatu pertumbuhan yang relatif cepat (spurt) dapt diselingi dengan pertumbuhan yang lambat (plateau).
4.      Faktor hereditas (keturunan), dalam batas-batas tertentu, mempengaruhi perkembangan.
Hampir semua aspek perkembangan seseorang anak dipengaruhi secara langsung ataupun tidak langsung oleh susunan genetis anak yang tidak bersangkutan. Meski demikian, tidak semua karakteristik turunan tersebut tampak pada waktu kelahiran. Hereditas terus mempengaruhi perkembangan anak sepanjang proses kematangan (maturation), yakni mulai berkembangnya perubahan-perubahan yang dikontrol secara genetis ketika ank berkembang.
5.      Faktor-faktor lingkungan juga memberikan kontribusi yang penting terhadap perkembangan.
Kondisi-kondisi lingkungan bahkan dapat mempengaruhi karakteristik-karakteristik yang sebagian besar dikendalikan oleh faktor hereditas.
6.      Hereditas dan lingkungan saling berinteraksi membentuk perilaku individu.
Selama waktu yang cukup lama, banyak peneliti berupaya membandingkan seberapa jauh pengaruh hereditas dan pengaruh lingkungan terhadap karakteristik-karakteristik spesifik manusia (intelegensi, kepribadian,dan sebagainya). Meski demikian, para psikolog semakin menyadari bahwa hereditas dan lingkungan saling berinteraksi dan tidak dapat dipisahkan. Gen membutuhkan dukungan lingkunagan agar dapat beroperasi.

C.     Peran Otak dalam Pembelajaran dan Perkembangan
Otak manusia adalah sebuah organ yang sangat rumit, yang mencakup setidaknya seratus milyar sel saraf. Sel-sel saraf ini, yang disebut neuron, berukuran sangat kecil (mikroskopik) dan saling terhubung satu sama lain. Sejumlah neuron menerima informasi dari bagian tubuh yang lain. Sejumlah neuron yang lain mensintensiskan dan menafsirkan informasi tersebut. Dan yang lain lagi mengirimkan pesan kepada tubuh mengenai cara merespons yang tepat sesuai kondisinya yang ada.
1.      Sebagian besar pembelajaran kemungkinan melibatkan perubahan-perubahan di neuron dan sinapsis.
Secara spesifik, pembelajara sering kali melibatkan penguatan sinapsis yang telah ada atau pembentukan sinapsis baru. Dalam sejumlah kasus, kemajuan dalam belajar justru melibatkanpemusnahan sinapsis. Pembelajaran yang efetif mengharuskan seseorang tidak hanya memikirkan dan melakukan hal-hal tertentu, namun juga tidak memikirkan dan melakukan hal-hal yang lain. Dengan kata lain, orang yang bersangkutan menghambat kecenderungan untuk berpikir atau berperilaku dalam cara tertentu.
2.      Perubahan-perubahan perkembangan yang terjadi di otak memungkinkan terjadinya proses berpikir yang semakin kompleks dan efisien.
Neuron-neuron mulai membentuk sinapsis-sinapsis sebelum bayi dilahirkan. Segera setelah kelahiran, kecepatan pembentukan neuron berkurang secara dramatis. Para ahli berspekulasi bahwa melalui produksi sinpsi secara besar-besaran pada masa-masa awal kehidupan, anak-anak memiliki potensi untuk beradaptasi di berbagai kondisi dan situasi. Saat mereka menjumpai stimuli dan pengalaman yang berbeda-beda, sejumlah sinapsis menjadi sangat berguna dan digunakan berulang-ulang.
3.      Banyak bagian otak bekerja sama secara harmonis untuk memudahkan terjadinya proses berpikir dan berperilaku yang rumit.
Dalam batas-batas tertentu, belahan otak kiri dn kanan, atau hemisfer, di korteks memiliki fungsi khas yang berbeda. Faktanya, bagian-bagian otak yang berbeda-beda berkomunikasi secara terus-menerus satu dengan yang lainnya. Pada dasarnya, proses belajar dan berpikir mengenai apapun tersebar di sepanjang banyak bagian otak.
4.      Otak tetap mampu beradaptasi seumur hidup manusia.
Berdasarkan sudut pandang fisiologis, kemampuan otak untuk beradaptasi terhadap perubahan keadaan. Dengan kata lain, kemampuan
otak untuk belajar berlanjut sepanjang rentang hidup manusia (Kolb et. al., 2005; C. A. Nelson et. al., 2006). Masa tahun-tahun awal memang merupakan masa-masa penting bagi perkembangan, namun tak kalah pentingnya adalah masa-masa sesudahnya.

D.    Teori Piaget dalam Perkembangan Kognitif
Pada awal tahun 1920-an, ahli biologi Swiss Jean Piaget mulai meneliti respon anak-anak terhadap soal-soal yang berkaitan dengan logika dan dunia di sekelilingnya.
1.      Asumsi-asumsi dasar Piaget
Piaget memperkenalkan sejumlah ide dan konsep untuk mendeskripsikan dan menjelaskan perubahan-perubahan dalam pemikiran logis yang diamatinya pada anak-anak dan orang dewasa.
a.       Anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan termotivasi.
Piaget meyakini bahwa anak-anak secara alami memiliki ketertarikan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka memahami dunianya.
b.      Anak-anak mengonstruksi pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman.
Anak-anak tidak hanya sekedar mengumpulkan hal-hal yang telah mereka pelajari menjadi sesuatu koleksi fakta-fakta yang terisolasi. Alih-alih, mereka menggabungkan pengalaman-pengalaman mereka menjadi suatu pandangan terintegrasi mengenai cara kerja dunia di sekitar mereka.
c.       Anak-anak belajar melalui dua proses yang saling melengkapi, yakni asimilasi dan akomodasi.
Piaget mengemukakan bahwa pembelajaran dan perkembangan kognitif terjadi sebagai hasil dua proses yang komplementer (yang saling melengkapi); asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses merespons suatu peristiwa baru secara konsisten dengan rancangan yang telah dimiliki. Akomodasi adalah proses merespons suatu peristiwa baru dengan memodifikasi suatu rancangan yang telah ada atau dengan membentuk suatu rancangan baru.
d.      Interaksi anak dengan lingkungan fisik dan sosial adalah faktor yang sangat penting bagi perkembangan kognitif.
Piaget berpendapat bahwa eksperimen yang dilakukan anak-anak secara aktif terhadap dunia fisik merupakan elemen vital bagi pertumbuhan kognitif.
e.       Proses ekuilibrasi mendorong kemajuan ke arah kemampuan berfikir yang semakin kompleks.
Piaget mengemukakan bahwa anak-anak sering kali berada dalam kondisi ekuilibrium: mereka dapat menafsirkan dan merespon peristiwa-peristiwa baru dengan menggunakan skema-skema yang sudah ada. Meski demikian, ekuilibrium ini tidaklah berlangsung tanpa akhir.
f.       Sebagai salah satu akibat dari perubahan kematangan di otak, anak-anak berpikir dengan cara-cara yang secara kualitatif berbeda pada usia yang berbeda.
Piaget berspekulasi bahwa otak berubah secara signifikan, dan perubahan-perubahan tersebut memungkinkan terjadinya proses-proses berpikir yang semakin kompleks.
2.      Tahap-tahap perkembangan kognitif Piaget
Tahap-tahap perkembangan kognitif individu terdiri dari:
a.       Tahap sensori motor (kelahiran hingga usia 2 tahun), di dalamnya skema-skema terbentuk sebagian besar dari perilaku dan persepsi; anak berfokus pada apa yang terjadi di sini dan saat ini (here and now).
b.      Tahap praoperasional (usia 2 hingga 6 atau 7 tahun), di mana anak-anak dapat memikirka objek dan peristiwa yang berada di luar jangkauan pandangan langsung mereka, namun belum mampu melakukan penalaran logis seperti orang dewasa.
c.       Tahap operasional konkret (usia 6 atau 7 tahun hingga 11 atau 12 tahun), yakni ketika penalaran anak mulai menyerupai penalaran orang dewasa, namun masih terbatas pada realitas konkret.
d.      Tahap operasional formal (usia 11 atau 12 tahun hingga dewasa), di mana proses-proses penalaran logis diterapkan ke ide-ide ebstrak dan juga objek-objek konkret.

3.      Perspektif terkini tentang teori Piaget
Dalil Piaget bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam tahap-tahap telah memicu sejumlah besar penelitian lanjutan. Selain itu, sebagian besar peneliti benar-benar meragukan bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam tahap-tahap yang terpisah-pisah, sebagaimana dijabarkan Piaget sebagai berikut:
a.       Kemampuan-kemampuan pada setiap kelompok usia bayi dan balita tampaknya memiliki kompeten daripada yang dikemukakan Piaget dalam deskripsinya tentang tahap sensorimotor dan praoperasional.
b.      Dampak-dampak pengalaman dan pengetahuan awal pelatihan eksplisit dan pengalaman-pengalaman lain dapat membantu anak-anak yang masih belia untuk meraih kemampuan penalaran lebih dini daripada yang diyakini Piaget (Brainerd,2003 Kuhn,2006).
c.       Mempertimbangkan kembali tahap-tahap perkembangan kognitif Piaget yang diragukan, beberapa ahli kontemporer menawarkan teori-teori berbasis tahap-tahap perkembangan yang mungkin lebih mampu menjelaskan penelitian-penelitian terbaru mengenai pemikiran logis pada anak-anak. Para ahli selanjutnya menyatakan bahwa tahap-tahap Piaget mungkin lebih tepat apa yang dapat dipikirkan anak-anak, alih-alih menjelaskan apa yang sungguh-sungguh dipikirkan anak-anak.

E.     Teori Vygotsky tentang Perkembangan Kognitif
Vygotsky melakukan banyak study mengenai proses berpikir anak-anak sejak tahun 1920-an hinga kematiannya. Sekalipun Vygotsky belum mengembangkan teorinya secara utuh, gagasan-gagasannya memiliki dampak signifikan terhadap pandangan kita mengenai perkembangan anak, pembelajaran, dan praktik belajar mengajar.
1.      Asumsi-asumsi dasar Vygotsky
Vygotsky meyakini bahwa orang-orang dewasa di masyarakat mendorong perkembangan kognitif anak secara sengaja dan sistematis. Asumsi-asumsi utama pada perspektif Vygotsky:
a.       Melalui percakapan informal da sekolah formal, orang-orang dewasa menyampaikan kepada anak bagaimana kebudayaan mereka menafsirkan dan merespons dunia.
b.      Setiap kebudayaan menanamkan perangkat-perangkat fisik dan kognitif yang menjadikan kehidupan sehari-hari semakin produktif dan efisien.
c.       Pikiran dan bahasa menjadi semakin interdependen dalam tahun-tahun pertama kehidupan.
d.      Proses-proses mental yang kompleks bermula sebagai aktivitas-aktivitas sosial; seiring perkembangan, nak-anak secara berangsur-angsur menginternalisasikan proses-proses yang mereka gunakan dalam konteks-konteks sosial dan mulai menggunakan secara independen.
e.       Anak dapat mengerjakan tugas-tugas yang menantang bila dibimbing oleh seseorang yang lebih kompeten dan lebih maju daripada mereka.
f.       Tugas-tugas yang menantang akan mendorong pertumbuhan konitif yang maksimum.
g.      Permainan memungkinkan anak berkembang secara kognitif.

2.      Perspektif terkini tentang teori Vygotsky
Teori Vygotsky seringkali tidak akurat serta sulit  diuji dan diverifikasi. Namun demikian, gagasan-gagasan Vygotsky penuh banyak wawasan da manfaat.
a.       Konstruksi makna sosial
Vygotsky mengemukakan bahwa orang dewasa membantu anak meletakan makna ke berbagai objek dan peristiwa di sekeliling mereka. Baru-baru ini para ilmuan telah mengolaborasi gagasan ini. Mereka menyatakan bahwa orang dewasa seringkali membantu seorang anak memahami dunia melalui diskusi bersama-sama tentang suatu fenomena atau peristiwa yang mereka alai bersama.
b.      Scaffolding
Scaffolding merupakan mekanisme pendukung yang membanu seorang pembelajar untuk berhasil menyelesaikan suatu tugas dalam zona perkembangan proksimalnya.
c.       Partisipasi terbimbing dalam aktivitas-aktivitas orang dewasa, keterlibatan dalam aktivitas-aktivitas orang dewasa memungkinkan anak terlibat dalam perilaku-perilaku dan keterampilan berpikir dalam rentang zona perkembangan proksimal mereka.
d.      Pemagangan
Seorang anak pemula bekerja bersama seorang pakar dalam jangka waktu yang cukup lama, dalam rangka mempelajar cara-cara melakukan berbagai tugas yang kompleks dalam suatu ranah tertentu.
e.       Interaksi dengan rekan sebaya
Interaksi anak dengan rekan sebayanya mempunyai peran yang berbeda dalam perkembangan dibandingkan interaksi anak dengan orang dewasa.

F.      Perkembangan Linguistik
Penggunaan bahasa secara efektif merupakan sebuah usaha keras yang sangat kompleks. Berikut perspektif-perspektif teoritis mengenai perkembangan linguistik:
1.      Isu-isu teoritis terkait perkembangan teoritis
Lingkungan seorang anak memainkan peranan penting dalam perkembangan linguistik. Anak-anak dapat mempelajari sebuah bahasa hanya bila orang-orang di sekelilingnya menggunakan bahasa tersebut secara rutin dalam percakapan.selain itu, manusia memiliki kemampuan menuasai bahasa yang jauh lebih kompleks dibandingkan spesies manapun di planet ini.
2.      Tren dalam perkembangan linguistik
Mayoritas terbesar anak-anak secara konsisten terbenam dalam lingkungan yang kaya bahasa. Kemampuan bahasa tersebut terus berkembang dan menjadi matang sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
a.       Perkembangan kosakata
Pengetahuan siswa mengenai makna-makna kata (semantika) tidaklah bersifat mutlak.
b.      Perkembangan sintaksis
Sintaksis adalah rangkaian peraturan yang digunakan seseorang untuk menempatkan kata-kata menjadi kalimat. Aturan-aturan sintaksis memungkinkan kita meletakan berbagai kata sekaligus menjadi kalimat-kalimat yang memiliki tata bahasa yang tepat.
c.       Perkembangan kemampuan mendengarkan
Kemampuan siswa memahami apa yang didengar dipengaruhi oleh pengetahuan mereka mengenia kosakata dan sintaksis. Namun, faktor-faktor lain juga berpengaruh seperti konteks tempat mereka mendengar kata-kata tersebut.
d.      Perkembangan keterampilan komunikasi lisan
Selama masa taman kanak-kanak dan awal sekolah dasar, banyak anak mengalami kesulitan melafalkan bunyi seperti r dan ny. Saat berusia 8 atau 9 tahun, sebagian besar siswa telah menguasai bunyi-bunyi bahasa ibu. Jika kesulitan pelafalan terus berlanjut setelah masa-masa itu, perllu dilakukan konsultasi dengan dokter ahli patologi bicara mengenai strategi-strategi perbaikan atau penyembuhannya.
e.       Perkembangan kesadaran metalinguistik
Para siswa mengembangkan kesadaran meta linguistik (metalinguistic awareness); kemampuan memikirkan hakikat bahasa itu sendiri.

3.      Mempelajari bahasa kedua
Saat dunia kerja orang dewasa menjadi semakin menglobal, terdapat kebutuhan yang semakin besar bahwa anak-anak mempelajari lebih dari satu bahasa baru, selain bahasa ibu.
a.       Bilingualisme
Sekurang-kurangnya separuh populasi anak-anak di seluruh dunia adalah anak-anak bilingial; artinya mereka berbicara dua (terkadang tiga atau lebih) bahasa secara fasih.
b.      Mendorong bilingualisme
Tampaknya pendekatan terbaik untuk mengajar bahasa asing tergantung situasi. Pendalaman yang intensif dalam bahasa asing adalah metode yang sangat tepat. Sebaliknya, pendalaman yang intensif dalam bahasa asing bisa sangat menggangu performa akademik para siswa dari negara lain yang berimigrasi ke negara yan menggunakan bahasa tersebut.

G.    Keberagaman dalam Perkembangan Kognitif dan Linguistik
Sekalipun urutan munculnya kemampuan-kemampuan kognitif linguistik dapat diprediksikan, waktu munculnya tersebut tidaklah sama bagi tiap-tiap anak. Artinya, kemungkinan besar kita akan menjumpai keberagaman yang cukup besar dalam segala kelompo usia.
1.      Perbedaan-perbedaan budaya dan etnik
Penelitian membuktikan bahwa arah perkembangan kognitif berbeda di tiap-tiap budaya. Perbedaan-perbedaan kultural juga memiliki pengaruh terhadap keragaman bahasa, bahkan pada anak-anak yang dibesarkan dalam lingkup bahasa nasional yang kurang baik. Beberapa anak berbicara menggunakan dialek, yaitu suatu bentuk bahasa yang berbeda dari karakteristik bahasa yang baku, yang digunakan secara terbatas di kelompok etnik atau lingkungan geografis tertentu.
2.      Menangani kebutuhan-kebutuhan khusus para pembelajar bahasa Inggris
Program-program bilingual, yakni program-program yang di dalamnya bahasa Inggris (atau bahasa apapun yang merupakan bahasa resmi negara tersebut) diajarkan sebagai bahasa kedua sedangkan mata pelajaran lainnya diajarkan dalam bahasa asli siswa pada umumnya lebih efektif bagi siswa-siswi imigran daripada program pendalaman intensif(immersion). Idealnya, peralihan dari pengajaran dalam bahasa asli siswa ke pengajaran dalam bahasa resmi negara tersebut (misalnya, bahasa Inggris) seharusnya terjadi secara berangsur-angsur dalam rentang waktu beberapa tahun, sehingga memungkinkan para siswa imigran menjadi fasih dalam kedua bahasa.
3.      Mengakomodasi siswa-siswa berkebutuhan khusus
Perbedaan-perbedaan perkembangan kognitif dan linguistik pada siswa yang memiliki kebutuhan pendidikan khusus. Misalnya, kita mungkin memiliki beberapa anak yang menunjukan perkembangan kognitif yang sangat maju, sementara beberapa siswa lainnya menunjukkan kemampuan kognitif dibidang-bidang tertentu atau secara menyeluruh jauh dibawah rekan-rekannya. Untuk menolong mereka meraih kesuksesan akademik dapat dengan cara sebagai berikut:
a.       Menggunakan objek-objek konkret dan pengalaman untuk membantu siswa memahami ide-ide abstrak.
b.      Carilah bantuan dari ahli patologi bicara saat siswa menunjukkan kesulitan yang tidak laim dalam mendengarkan ataupun berbicara.
c.       Berikan pengajaran yang intensif dalam keterampilan-keterampilan kognitf dan linguistik yang belum dikuasai anak didik.
d.      Berikan peluang kepada siswa untuk mengeksplorasi topik-topik mata pelajaran secara lebih mendalam atau lebih luas.
e.       Berikan peluang kepada siswa untuk mempercepat penguasaan bahan ajar yang ditetapkan dalam kuriulum.

H.    Gambaran Besar
Sekalipun eksplorasi kita terhadap perembangan otak, teori Piaget, teori Vygotsky, dan perkembangan linguistik telah membawa kita ke sejumlah arah, beberapa tema yang umum muncul berulang-ulang:
1.       Anak-anak aktif mengonstruksi alih-alih secara pasif menyerap, pengetahuan mereka.Piaget mendeskripsikan perkembangan kognitif sebagai suatu proses pembentukan pemahaman individu unik mengenai dunia. Vygotsky dan para pengikutnya mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja seringkali bekerja bersama-sama untuk memahami dan menemukan makna dalam berbagai peristiwa.
2.       Seiring bertambahnya usia, anak semakin mampu terlibat pemikiran yang semakin kompleks. Baik Piaget maupun Vygotsky menyatakan bahwa anak menguasai banyak kemampuan kognitif yang baru seiring bertambahnya usia.
3.       Bahasa merupakan fondasi bagi banyak kemajuan kognitif. Kata memberikan dasar bagi sebagian besar pemikiran simbolik, sebagaimana yang dideskripsikan Piaget. Selain itu, banyak kata dan frase yang hanya didapati dalam disiplin-disiplin ilmu tertentu menjadi perangkat-perangkat kognitif yang dalam perspektif Vygotsky, membantu anak mendapat manfaat dari dan sekaligus mengembangkan kearifan yang telah dikumpulkan generasi-generasi sebelumnya.
4.       Situasi dan tugas yang menantang mendorong perkembangan. Pentingnya tantangan terutama tampak dalam konsep Vygotsky mengenai zona perkembangan proksimal: Anak paling banyak  mendapatkan manfaat dari tugas-tugas yang dapat mereka kerjakan hanya dengan bantuan idividu yang lebih kompeten. Dalam teori Piaget, anak-anak mengembangkan pengetahuan dan proses-proses berpikir yang semakin maju hanya ketika mereka menjumpai fenomena yang tidak dapat mereka pahami secara memadai dengan menggunakan skema (scheme) yang ada.

BAB III
KESIMPULAN

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada pokok-pokok pembahasan sebelumnya, kami mengambil beberapa kesimpulan yaitu:
1.      Sesuai dengan perkembangannya, anak akan dapat menyerap pengetahuan dan bahasa dengan baik.
2.      Anak-anak aktif mengontruksi alih-alih secara pasif menyerap pengetahuan mereka.
3.      Seiring  bertambahnya usia, anak semakin mampu terlibat pemikiran yang semakin kompleks.
4.      Bahasa merupakan fondasi bagi banyak kemajuan kognitif.
5.      Situasi dan tugas sangat mempengaruhi dalam mendorong perkembangan.

DAFTAR PUSTAKA



Ormrod, Jeanne Ellis.2008.Psikologi Pendidikan: Membantu Siswa tumbuh dan Berkembang, edisi keenam.Jakarta:Erlangga.

1 komentar: