A. Pengertian
Perkembangan Kognitif dan Linguistik
1. Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan
berpikir dan penalaran yang semakin canggih seiring bertambahnya usia.
2. Perkembangan linguistik
Perkembangan linguistik adalah perkembangan pemahaman dan
penggunaan bahasa yang semakin canggih seiring bertambahnya usia.
B. Prinsip-prinsip
Dasar Perkembangan Manusia
Saat kita mempelajari berbagai teori perkembangan kognitif dan
linguistik terdapat sejumlah prinsip umum yang tampaknya berlaku untuk setiap
ranah perkembangan:
1. Urutan perkembangan sedikit
banyak dapat diramalkan.
Perkembangan manusia seringkali dicirikan oleh tonggak perkembangan (developmental
milestones) perilaku-perilaku baru yang semakin kompleks seiring
meningkatnya tahap perkembangan yang muncul dalam urutan yang dapat diramalkan.
Dalam batas-batas tertentu, kita melihat keseragaman (univesals) dalam
tahap-tahap perkembangan pola-pola yang serupa daslam hal bagaimana anak
berubah seiring waktu, terlepas dari perbedaan lingkungan tempat anak-anak
tersebut tumbuh dan berkembang.
2. Anak-anak berkembang dalam
kecepatan yang berbeda.
Tidak semua anak mencapai tonggak perkembangan pada usia yang sama.
Beberapa anak mencapainya lebih dini, beberapa anak yang lain mencapainya lebih
lambat. Penentuan perkiraan usia saat anak mampu melakukan perilaku tertentu
atau berpikir dengan cara tertentu memungkinkan kita membuat ramalan umum
mengenai kemampuan-kemampuan anak pada tingkat usia tertentu.
3. Perkembangan terkadang terjadi
dengan cepat, terkadang juga lambat.
Perkembangan tidak terjadi dalam kecepatan yang konstan. Suatu
pertumbuhan yang relatif cepat (spurt) dapt diselingi dengan pertumbuhan
yang lambat (plateau).
4. Faktor hereditas (keturunan),
dalam batas-batas tertentu, mempengaruhi perkembangan.
Hampir semua aspek perkembangan seseorang anak dipengaruhi secara
langsung ataupun tidak langsung oleh susunan genetis anak yang tidak
bersangkutan. Meski demikian, tidak semua karakteristik turunan tersebut tampak
pada waktu kelahiran. Hereditas terus mempengaruhi perkembangan anak sepanjang
proses kematangan (maturation), yakni mulai berkembangnya
perubahan-perubahan yang dikontrol secara genetis ketika ank berkembang.
5. Faktor-faktor lingkungan juga
memberikan kontribusi yang penting terhadap perkembangan.
Kondisi-kondisi lingkungan bahkan dapat mempengaruhi
karakteristik-karakteristik yang sebagian besar dikendalikan oleh faktor
hereditas.
6. Hereditas dan lingkungan
saling berinteraksi membentuk perilaku individu.
Selama waktu yang cukup lama, banyak peneliti berupaya membandingkan
seberapa jauh pengaruh hereditas dan pengaruh lingkungan terhadap
karakteristik-karakteristik spesifik manusia (intelegensi, kepribadian,dan
sebagainya). Meski demikian, para psikolog semakin menyadari bahwa hereditas
dan lingkungan saling berinteraksi dan tidak dapat dipisahkan. Gen membutuhkan
dukungan lingkunagan agar dapat beroperasi.
C. Peran
Otak dalam Pembelajaran dan Perkembangan
Otak manusia adalah sebuah organ yang sangat rumit, yang
mencakup setidaknya seratus milyar sel saraf. Sel-sel saraf ini, yang disebut
neuron, berukuran sangat kecil (mikroskopik) dan saling terhubung satu sama
lain. Sejumlah neuron menerima informasi dari bagian tubuh yang lain. Sejumlah
neuron yang lain mensintensiskan dan menafsirkan informasi tersebut. Dan yang
lain lagi mengirimkan pesan kepada tubuh mengenai cara merespons yang tepat
sesuai kondisinya yang ada.
1. Sebagian besar pembelajaran
kemungkinan melibatkan perubahan-perubahan di neuron dan sinapsis.
Secara spesifik, pembelajara sering kali melibatkan
penguatan sinapsis yang telah ada atau pembentukan sinapsis baru. Dalam
sejumlah kasus, kemajuan dalam belajar justru melibatkanpemusnahan sinapsis. Pembelajaran yang efetif
mengharuskan seseorang tidak hanya memikirkan dan melakukan hal-hal tertentu,
namun juga tidak memikirkan dan melakukan hal-hal yang
lain. Dengan kata lain, orang yang bersangkutan menghambat kecenderungan untuk
berpikir atau berperilaku dalam cara tertentu.
2. Perubahan-perubahan
perkembangan yang terjadi di otak memungkinkan terjadinya proses berpikir yang
semakin kompleks dan efisien.
Neuron-neuron mulai membentuk sinapsis-sinapsis sebelum
bayi dilahirkan. Segera setelah kelahiran, kecepatan pembentukan neuron
berkurang secara dramatis. Para ahli berspekulasi bahwa melalui produksi sinpsi
secara besar-besaran pada masa-masa awal kehidupan, anak-anak memiliki potensi
untuk beradaptasi di berbagai kondisi dan situasi. Saat mereka menjumpai
stimuli dan pengalaman yang berbeda-beda, sejumlah sinapsis menjadi sangat
berguna dan digunakan berulang-ulang.
3. Banyak bagian otak bekerja
sama secara harmonis untuk memudahkan terjadinya proses berpikir dan
berperilaku yang rumit.
Dalam batas-batas tertentu, belahan otak kiri dn kanan, atau hemisfer, di korteks memiliki
fungsi khas yang berbeda. Faktanya, bagian-bagian otak yang berbeda-beda
berkomunikasi secara terus-menerus satu dengan yang lainnya. Pada dasarnya,
proses belajar dan berpikir mengenai apapun tersebar di sepanjang banyak bagian
otak.
4. Otak tetap mampu beradaptasi
seumur hidup manusia.
Berdasarkan sudut pandang fisiologis, kemampuan otak untuk beradaptasi
terhadap perubahan keadaan. Dengan kata lain, kemampuan
otak
untuk belajar berlanjut sepanjang rentang hidup manusia (Kolb et. al., 2005; C.
A. Nelson et. al., 2006). Masa tahun-tahun awal memang merupakan masa-masa
penting bagi perkembangan, namun tak kalah pentingnya adalah masa-masa
sesudahnya.
D. Teori
Piaget dalam Perkembangan Kognitif
Pada awal tahun 1920-an, ahli biologi
Swiss Jean Piaget mulai meneliti respon anak-anak terhadap soal-soal yang
berkaitan dengan logika dan dunia di sekelilingnya.
1. Asumsi-asumsi dasar Piaget
Piaget memperkenalkan sejumlah ide dan konsep untuk mendeskripsikan dan
menjelaskan perubahan-perubahan dalam pemikiran logis yang diamatinya pada
anak-anak dan orang dewasa.
a. Anak-anak adalah pembelajar
yang aktif dan termotivasi.
Piaget meyakini bahwa anak-anak secara alami memiliki
ketertarikan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang dapat
membantu mereka memahami dunianya.
b. Anak-anak mengonstruksi
pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman.
Anak-anak tidak hanya sekedar mengumpulkan hal-hal yang
telah mereka pelajari menjadi sesuatu koleksi fakta-fakta yang terisolasi.
Alih-alih, mereka menggabungkan pengalaman-pengalaman mereka menjadi suatu
pandangan terintegrasi mengenai cara kerja dunia di sekitar mereka.
c. Anak-anak belajar melalui dua
proses yang saling melengkapi, yakni asimilasi dan akomodasi.
Piaget mengemukakan bahwa pembelajaran dan perkembangan
kognitif terjadi sebagai hasil dua proses yang komplementer (yang saling
melengkapi); asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses merespons suatu
peristiwa baru secara konsisten dengan rancangan yang telah dimiliki. Akomodasi
adalah proses merespons suatu peristiwa baru dengan memodifikasi suatu
rancangan yang telah ada atau dengan membentuk suatu rancangan baru.
d. Interaksi anak dengan
lingkungan fisik dan sosial adalah faktor yang sangat penting bagi perkembangan
kognitif.
Piaget berpendapat bahwa eksperimen yang dilakukan
anak-anak secara aktif terhadap dunia fisik merupakan elemen vital bagi
pertumbuhan kognitif.
e. Proses ekuilibrasi mendorong
kemajuan ke arah kemampuan berfikir yang semakin kompleks.
Piaget mengemukakan bahwa anak-anak sering kali berada
dalam kondisi ekuilibrium: mereka dapat menafsirkan dan merespon
peristiwa-peristiwa baru dengan menggunakan skema-skema yang sudah ada. Meski
demikian, ekuilibrium ini tidaklah berlangsung tanpa akhir.
f. Sebagai salah satu akibat dari
perubahan kematangan di otak, anak-anak berpikir dengan cara-cara yang secara
kualitatif berbeda pada usia yang berbeda.
Piaget berspekulasi bahwa otak berubah secara signifikan,
dan perubahan-perubahan tersebut memungkinkan terjadinya proses-proses berpikir
yang semakin kompleks.
2. Tahap-tahap perkembangan
kognitif Piaget
Tahap-tahap
perkembangan kognitif individu terdiri dari:
a. Tahap sensori motor (kelahiran
hingga usia 2 tahun), di dalamnya skema-skema terbentuk sebagian besar dari
perilaku dan persepsi; anak berfokus pada apa yang terjadi di sini dan saat ini
(here and now).
b. Tahap praoperasional (usia 2
hingga 6 atau 7 tahun), di mana anak-anak dapat memikirka objek dan peristiwa
yang berada di luar jangkauan pandangan langsung mereka, namun belum mampu
melakukan penalaran logis seperti orang dewasa.
c. Tahap operasional konkret
(usia 6 atau 7 tahun hingga 11 atau 12 tahun), yakni ketika penalaran anak
mulai menyerupai penalaran orang dewasa, namun masih terbatas pada realitas
konkret.
d. Tahap operasional formal (usia
11 atau 12 tahun hingga dewasa), di mana proses-proses penalaran logis
diterapkan ke ide-ide ebstrak dan juga objek-objek konkret.
3. Perspektif terkini tentang
teori Piaget
Dalil Piaget bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam tahap-tahap telah
memicu sejumlah besar penelitian lanjutan. Selain itu, sebagian besar peneliti
benar-benar meragukan bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam tahap-tahap
yang terpisah-pisah, sebagaimana dijabarkan Piaget sebagai berikut:
a. Kemampuan-kemampuan pada
setiap kelompok usia bayi dan balita tampaknya memiliki kompeten daripada yang
dikemukakan Piaget dalam deskripsinya tentang tahap sensorimotor dan
praoperasional.
b. Dampak-dampak pengalaman dan
pengetahuan awal pelatihan eksplisit dan pengalaman-pengalaman lain dapat
membantu anak-anak yang masih belia untuk meraih kemampuan penalaran lebih dini
daripada yang diyakini Piaget (Brainerd,2003 Kuhn,2006).
c. Mempertimbangkan kembali
tahap-tahap perkembangan kognitif Piaget yang diragukan, beberapa ahli
kontemporer menawarkan teori-teori berbasis tahap-tahap perkembangan yang
mungkin lebih mampu menjelaskan penelitian-penelitian terbaru mengenai
pemikiran logis pada anak-anak. Para ahli selanjutnya menyatakan bahwa
tahap-tahap Piaget mungkin lebih tepat apa yang dapat dipikirkan anak-anak,
alih-alih menjelaskan apa yang sungguh-sungguh dipikirkan anak-anak.
E. Teori
Vygotsky tentang Perkembangan Kognitif
Vygotsky melakukan banyak study mengenai proses berpikir
anak-anak sejak tahun 1920-an hinga kematiannya. Sekalipun Vygotsky belum
mengembangkan teorinya secara utuh, gagasan-gagasannya memiliki dampak
signifikan terhadap pandangan kita mengenai perkembangan anak, pembelajaran,
dan praktik belajar mengajar.
1. Asumsi-asumsi dasar Vygotsky
Vygotsky meyakini bahwa orang-orang dewasa di masyarakat mendorong
perkembangan kognitif anak secara sengaja dan sistematis. Asumsi-asumsi utama
pada perspektif Vygotsky:
a. Melalui percakapan informal da
sekolah formal, orang-orang dewasa menyampaikan kepada anak bagaimana
kebudayaan mereka menafsirkan dan merespons dunia.
b. Setiap kebudayaan menanamkan
perangkat-perangkat fisik dan kognitif yang menjadikan kehidupan sehari-hari
semakin produktif dan efisien.
c. Pikiran dan bahasa menjadi
semakin interdependen dalam tahun-tahun pertama kehidupan.
d. Proses-proses mental yang
kompleks bermula sebagai aktivitas-aktivitas sosial; seiring perkembangan,
nak-anak secara berangsur-angsur menginternalisasikan proses-proses yang mereka
gunakan dalam konteks-konteks sosial dan mulai menggunakan secara independen.
e. Anak dapat mengerjakan
tugas-tugas yang menantang bila dibimbing oleh seseorang yang lebih kompeten
dan lebih maju daripada mereka.
f. Tugas-tugas yang menantang
akan mendorong pertumbuhan konitif yang maksimum.
g. Permainan memungkinkan anak
berkembang secara kognitif.
2. Perspektif terkini tentang
teori Vygotsky
Teori Vygotsky seringkali tidak akurat serta sulit diuji dan diverifikasi. Namun
demikian, gagasan-gagasan Vygotsky penuh banyak wawasan da manfaat.
a. Konstruksi makna sosial
Vygotsky mengemukakan bahwa orang dewasa membantu anak
meletakan makna ke berbagai objek dan peristiwa di sekeliling mereka. Baru-baru
ini para ilmuan telah mengolaborasi gagasan ini. Mereka menyatakan bahwa orang
dewasa seringkali membantu seorang anak memahami dunia melalui diskusi
bersama-sama tentang suatu fenomena atau peristiwa yang mereka alai bersama.
b. Scaffolding
Scaffolding merupakan mekanisme pendukung yang membanu
seorang pembelajar untuk berhasil menyelesaikan suatu tugas dalam zona
perkembangan proksimalnya.
c. Partisipasi terbimbing dalam
aktivitas-aktivitas orang dewasa, keterlibatan dalam aktivitas-aktivitas orang
dewasa memungkinkan anak terlibat dalam perilaku-perilaku dan keterampilan
berpikir dalam rentang zona perkembangan proksimal mereka.
d. Pemagangan
Seorang anak pemula bekerja bersama
seorang pakar dalam jangka waktu yang cukup lama, dalam rangka mempelajar
cara-cara melakukan berbagai tugas yang kompleks dalam suatu ranah tertentu.
e. Interaksi dengan rekan sebaya
Interaksi anak dengan rekan sebayanya mempunyai peran
yang berbeda dalam perkembangan dibandingkan interaksi anak dengan orang
dewasa.
F. Perkembangan
Linguistik
Penggunaan bahasa secara efektif merupakan sebuah usaha keras yang
sangat kompleks. Berikut perspektif-perspektif teoritis mengenai perkembangan
linguistik:
1. Isu-isu teoritis terkait
perkembangan teoritis
Lingkungan seorang anak memainkan peranan penting dalam perkembangan
linguistik. Anak-anak dapat mempelajari sebuah bahasa hanya bila orang-orang di
sekelilingnya menggunakan bahasa tersebut secara rutin dalam percakapan.selain
itu, manusia memiliki kemampuan menuasai bahasa yang jauh lebih kompleks
dibandingkan spesies manapun di planet ini.
2. Tren dalam perkembangan
linguistik
Mayoritas terbesar anak-anak secara konsisten terbenam
dalam lingkungan yang kaya bahasa. Kemampuan bahasa tersebut terus berkembang
dan menjadi matang sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
a. Perkembangan kosakata
Pengetahuan siswa mengenai makna-makna kata (semantika) tidaklah
bersifat mutlak.
b. Perkembangan sintaksis
Sintaksis adalah rangkaian peraturan yang digunakan seseorang untuk
menempatkan kata-kata menjadi kalimat. Aturan-aturan sintaksis memungkinkan
kita meletakan berbagai kata sekaligus menjadi kalimat-kalimat yang memiliki
tata bahasa yang tepat.
c. Perkembangan kemampuan
mendengarkan
Kemampuan siswa memahami apa yang didengar dipengaruhi oleh pengetahuan
mereka mengenia kosakata dan sintaksis. Namun, faktor-faktor lain juga
berpengaruh seperti konteks tempat mereka mendengar kata-kata tersebut.
d. Perkembangan keterampilan
komunikasi lisan
Selama masa taman kanak-kanak dan awal sekolah dasar, banyak anak
mengalami kesulitan melafalkan bunyi seperti r dan ny.
Saat berusia 8 atau 9 tahun, sebagian besar siswa telah menguasai bunyi-bunyi
bahasa ibu. Jika kesulitan pelafalan terus berlanjut setelah masa-masa itu,
perllu dilakukan konsultasi dengan dokter ahli patologi bicara mengenai
strategi-strategi perbaikan atau penyembuhannya.
e. Perkembangan kesadaran
metalinguistik
Para siswa mengembangkan kesadaran meta linguistik (metalinguistic
awareness); kemampuan memikirkan hakikat bahasa itu sendiri.
3. Mempelajari bahasa kedua
Saat dunia kerja orang dewasa menjadi semakin menglobal, terdapat
kebutuhan yang semakin besar bahwa anak-anak mempelajari lebih dari satu bahasa
baru, selain bahasa ibu.
a. Bilingualisme
Sekurang-kurangnya separuh populasi anak-anak di seluruh dunia adalah
anak-anak bilingial; artinya mereka berbicara dua (terkadang tiga atau lebih)
bahasa secara fasih.
b. Mendorong bilingualisme
Tampaknya pendekatan terbaik untuk mengajar bahasa asing tergantung
situasi. Pendalaman yang intensif dalam bahasa asing adalah metode yang sangat
tepat. Sebaliknya, pendalaman yang intensif dalam bahasa asing bisa sangat
menggangu performa akademik para siswa dari negara lain yang berimigrasi ke
negara yan menggunakan bahasa tersebut.
G. Keberagaman
dalam Perkembangan Kognitif dan Linguistik
Sekalipun urutan munculnya kemampuan-kemampuan kognitif linguistik dapat
diprediksikan, waktu munculnya tersebut tidaklah sama bagi tiap-tiap anak.
Artinya, kemungkinan besar kita akan menjumpai keberagaman yang cukup besar
dalam segala kelompo usia.
1. Perbedaan-perbedaan budaya dan
etnik
Penelitian membuktikan bahwa arah perkembangan kognitif berbeda di
tiap-tiap budaya. Perbedaan-perbedaan kultural juga memiliki pengaruh terhadap
keragaman bahasa, bahkan pada anak-anak yang dibesarkan dalam lingkup bahasa
nasional yang kurang baik. Beberapa anak berbicara menggunakan dialek, yaitu suatu bentuk bahasa
yang berbeda dari karakteristik bahasa yang baku, yang digunakan secara
terbatas di kelompok etnik atau lingkungan geografis tertentu.
2. Menangani kebutuhan-kebutuhan
khusus para pembelajar bahasa Inggris
Program-program bilingual, yakni program-program yang di dalamnya bahasa
Inggris (atau bahasa apapun yang merupakan bahasa resmi negara tersebut)
diajarkan sebagai bahasa kedua sedangkan mata pelajaran lainnya diajarkan dalam
bahasa asli siswa pada umumnya lebih efektif bagi siswa-siswi imigran daripada
program pendalaman intensif(immersion). Idealnya, peralihan dari
pengajaran dalam bahasa asli siswa ke pengajaran dalam bahasa resmi negara
tersebut (misalnya, bahasa Inggris) seharusnya terjadi secara berangsur-angsur
dalam rentang waktu beberapa tahun, sehingga memungkinkan para siswa imigran
menjadi fasih dalam kedua bahasa.
3. Mengakomodasi siswa-siswa
berkebutuhan khusus
Perbedaan-perbedaan perkembangan kognitif dan linguistik pada siswa yang
memiliki kebutuhan pendidikan khusus. Misalnya, kita mungkin memiliki beberapa
anak yang menunjukan perkembangan kognitif yang sangat maju, sementara beberapa
siswa lainnya menunjukkan kemampuan kognitif dibidang-bidang tertentu atau
secara menyeluruh jauh dibawah rekan-rekannya. Untuk menolong mereka meraih
kesuksesan akademik dapat dengan cara sebagai berikut:
a. Menggunakan objek-objek
konkret dan pengalaman untuk membantu siswa memahami ide-ide abstrak.
b. Carilah bantuan dari ahli
patologi bicara saat siswa menunjukkan kesulitan yang tidak laim dalam mendengarkan
ataupun berbicara.
c. Berikan pengajaran yang
intensif dalam keterampilan-keterampilan kognitf dan linguistik yang belum
dikuasai anak didik.
d. Berikan peluang kepada siswa
untuk mengeksplorasi topik-topik mata pelajaran secara lebih mendalam atau lebih
luas.
e. Berikan peluang kepada siswa
untuk mempercepat penguasaan bahan ajar yang ditetapkan dalam kuriulum.
H. Gambaran
Besar
Sekalipun eksplorasi kita terhadap perembangan otak, teori Piaget, teori
Vygotsky, dan perkembangan linguistik telah membawa kita ke sejumlah arah,
beberapa tema yang umum muncul berulang-ulang:
1. Anak-anak
aktif mengonstruksi alih-alih secara pasif menyerap, pengetahuan mereka.Piaget mendeskripsikan
perkembangan kognitif sebagai suatu proses pembentukan pemahaman individu unik
mengenai dunia. Vygotsky dan para pengikutnya mengemukakan bahwa anak-anak dan
remaja seringkali bekerja bersama-sama untuk memahami dan menemukan makna dalam
berbagai peristiwa.
2. Seiring
bertambahnya usia, anak semakin mampu terlibat pemikiran yang semakin kompleks. Baik Piaget maupun Vygotsky menyatakan bahwa anak menguasai banyak
kemampuan kognitif yang baru seiring bertambahnya usia.
3. Bahasa
merupakan fondasi bagi banyak kemajuan kognitif. Kata memberikan dasar bagi sebagian besar pemikiran simbolik, sebagaimana
yang dideskripsikan Piaget. Selain itu, banyak kata dan frase yang hanya
didapati dalam disiplin-disiplin ilmu tertentu menjadi perangkat-perangkat
kognitif yang dalam perspektif Vygotsky, membantu anak mendapat manfaat dari
dan sekaligus mengembangkan kearifan yang telah dikumpulkan generasi-generasi
sebelumnya.
4. Situasi
dan tugas yang menantang mendorong perkembangan. Pentingnya tantangan terutama tampak dalam konsep Vygotsky mengenai zona perkembangan proksimal: Anak paling banyak mendapatkan manfaat dari
tugas-tugas yang dapat mereka kerjakan hanya dengan bantuan idividu yang lebih
kompeten. Dalam teori Piaget, anak-anak mengembangkan pengetahuan dan
proses-proses berpikir yang semakin maju hanya ketika mereka menjumpai fenomena
yang tidak dapat mereka pahami secara memadai dengan menggunakan skema (scheme)
yang ada.
BAB III
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada pokok-pokok pembahasan
sebelumnya, kami mengambil beberapa kesimpulan yaitu:
1. Sesuai dengan perkembangannya,
anak akan dapat menyerap pengetahuan dan bahasa dengan baik.
2. Anak-anak aktif mengontruksi
alih-alih secara pasif menyerap pengetahuan mereka.
3. Seiring bertambahnya usia, anak semakin mampu
terlibat pemikiran yang semakin kompleks.
4. Bahasa merupakan fondasi bagi
banyak kemajuan kognitif.
5. Situasi dan tugas sangat
mempengaruhi dalam mendorong perkembangan.
DAFTAR PUSTAKA
Ormrod, Jeanne Ellis.2008.Psikologi Pendidikan:
Membantu Siswa tumbuh dan Berkembang, edisi keenam.Jakarta:Erlangga.
pengertiannya menurut apa kah?
BalasHapus